BIB ALI

06/08/2009 at 21:32 | Posted in Uncategorized | 1 Comment

Cerita ini aku dapatkan dari Blognya Mas Arif, seorang pengajar di salah satu SMU di kotaku, Cerita yang panjang, biasanya kalau membaca cerita yang kayak gini gak pernah selesai sampai akhir, tapi entah ketika aku membacanya ada hal yang berbeda, ada hal menarik yang aku dapatkan. Dan cerita membawaku untuk mempostingnya kembali disini,

Selamat Membaca …….

======================================================

Di kota kecil yang menyimpan banyak kenangan sepanjang tarikan napasku ini tinggallah seorang ulama yang cukup disegani dan menjadi tempat meminta nasihat orang-orang yang tengah dirundung berbagai persoalan hidup. Namanya Habib Ali bin Yahya bin Ahmad Al Athas. Namun, orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Bib Ali saja. Habib adalah panggilan untuk seorang ulama yang mempunyai garis keturunan menyambung dengan Nabi Muhammad. Menurut cerita yang kudengar, Bib Ali adalah keturunan – entah keberapa – dari Nabi Muhammad.

Jika belum pernah bertemu dengan Bib Ali, Anda tentunya akan membayangkan bertemu dengan seseorang berperawakan tinggi besar, kulit agak gelap, dan berhidung mancung sebagaimana kebanyakan orang keturunan Arab. Tetapi, Bib Ali tidaklah seperti umumnya orang Arab. Tingginya kurang lebih sama dengan tinggi rata-rata orang Indonesia. Bahkan dari wajahnya hampir dapat dikatakan tidak seperti orang Arab terutama jika dilihat dari bentuk hidungnya yang tidak mancung. Dalam kesehariannya Bib Ali lebih senang berpakaian ‘nyentrik’ untuk ukuran seorang ulama. Bib Ali hampir tidak pernah terlihat memakai jubah dan kopiah putih seperti yang sering kulihat pada keseharian habib-habib yang lain. Dia lebih sering terlihat memakai kaos oblong putih, sarung batik, dan kopiah hitam. Bib Ali tinggal di sebuah rumah tua yang cukup besar namun sudah mengelupas di beberapa bagian dindingnya. Rumah itu akan terlihat seperti rumah orang biasa pada siang hari. Sepi, seakan tidak ada aktivitas di dalamnya.

Namun jika hari berubah malam, rumah itu akan ramai didatangi orang-orang dan akan semakin bertambah ramai justru ketika malam semakin pekat. Rumah itu terletak di tengah perkampungan padat di kotaku. Sekalipun Anda belum pernah datang ke rumahnya, jangan khawatir tidak bisa menemukan rumah itu. Untuk mencari rumah Bib Ali tidaklah terlalu sulit. Tanyalah para tukang becak atau bahkan anak-anak kecil di kotaku, mereka pasti tahu di mana rumah Bib Ali. Apabila Anda beruntung, tukang becak itu akan mengantarkan Anda dengan becaknya ke rumah Bib Ali tanpa mau menerima bayaran dari Anda. Bahkan saat Anda memaksa agar tukang becak itu menerima sekadar uang rokok sebagai ucapan terima kasih, dia akan tetap menolaknya dengan berkata, “Tidak usah. Berkah Bib Ali akan mendatangkan rejeki yang lebih banyak hari ini untuk saya karena telah mengantarkan salah satu tamu Bib Ali.” Begitulah, banyak orang percaya Bib Ali adalah seorang wali. Orang yang dikarunia Allah beberapa keistimewaan karena ketinggian akhlak dan keikhlasannya dalam beribadah. Apa sebabnya aku sendiri tidak tahu, jujur saja, aku tidak termasuk orang yang menganggap Bib Ali adalah seorang wali. Yang jelas aku tidak terlalu percaya dengan cerita-cerita keistimewaan yang dimiliki Bib Ali.

Dari seluruh cerita yang pernah kudengar tentang keistimewaan Bib Ali, hampir seluruhnya mengusik nalarku yang sejak dulu memang tidak terlalu mempercayai hal-hal aneh dan tidak masuk akal. Kadang, sempat terpikir olehku untuk menguji kebenaran cerita-cerita tentang keistimewaan Bib Ali langsung kepada yang bersangkutan. Namun, selalu kuurungkan niatku itu setelah diperingatkan oleh salah seorang temanku agar jangan main-main dengan Bib Ali. “Bisa kualat kamu!” kata temanku itu. Beredar banyak cerita mengenai keistimewaan-keistimewaan Bib Ali. Bagi orang-orang menganggap Bib Ali adalah seorang wali, keistimewaan-keistimewaan itu dianggap sebagai karomah. Tanda-tanda kewalian.

Dari penuturan salah seorang teman sekerjaku, kudengar satu cerita tentang karomah Bib Ali. Temanku itu dengan sangat meyakinkan bercerita pada suatu ketika Bib Ali kedatangan tiga orang tamu dari jauh. Kebetulan saat itu, istri dan seluruh anggota keluarga Bib Ali sedang tidak ada di rumah. Padahal, tamu bagi Bib Ali, adalah orang yang harus dihormati dan dimuliakan. Makanya, kata temanku, jangan kaget jika Bib Ali akan menuangkan sendiri minuman ke dalam gelasku suatu saat aku bertamu ke rumahnya. Baginya, itu bukanlah sebuah pekerjaan yang akan menurunkan derajatnya. Konon, tutur temanku, untuk menghormati ketiga tamunya tersebut Bib Ali menuangkan sendiri minuman ke dalam gelas tiga tamu tersebut. Namun saat isi teko itu dituangkan, yang keluar adalah jenis minuman yang berbeda-beda. Satu orang mendapati gelasnya berisi kopi, seorang yang lain memperoleh susu, sedangkan seorang lagi mendapati gelasnya telah terisi dengan air teh. Ketiga tamu tersebut hanya bisa terbengong-bengong sambil bertanya dalam hatinya masing-masing, “Bagaimana mungkin?” “Darimana Bib Ali mengetahui minuman kesukaanku padahal aku belum pernah bertamu sebelumnya?” Agak sulit bagiku untuk mempercayai cerita temanku itu. Namun, dia menceritakannya dengan penuh keyakinan dan menambahkan keterangan bahwa cerita itu bersumber dari orang dekat Bib Ali sendiri.

***

Jika kuperhatikan, akhir-akhir ini semakin banyak saja orang datang ke rumah Bib Ali. Dugaanku, situasi kehidupan yang semakin runyam dan semrawut-lah yang menyebabkan orang-orang ingin meminta nasihat Bib Ali. Keputusasaan terkadang membuat seseorang berpikir mencari alternatif jalan keluar dari masalah yang dihadapinya dengan datang kepada seseorang yang dianggap mempunyai kelebihan. Ada yang bilang, persoalan-persoalan yang disampaikan kepada Bib Ali sangat beragam. Mulai dari masalah-masalah yang berat sampai hal-hal yang sepele. Aku pernah geli sendiri saat mendengar cerita ada orang yang datang menemui Bib Ali hanya ingin meminta nama untuk anaknya yang baru lahir atau seseorang yang minta dicarikan tanggal yang tepat untuk pernikahannya. Melihat orang-orang yang datang ke rumah Bib Ali, aku dapat menyimpulkan bahwa mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari para pejabat pemerintah, terlihat dari mobil berpelat merahnya. Sampai rakyat jelata, kalau yang ini dari penampilan luarnya saja sudah bisa kutebak. Kabarnya, para waria pun pernah bertamu ke rumah Bib Ali. Entah untuk maksud apa. Orang-orang itu tidak hanya berasal dari kotaku sendiri namun juga datang dari kota-kota yang jauh. Mobil-mobil berpelat B atau L, tidak jarang kulihat terparkir berjajar di depan gang kecil menuju rumah Bib Ali. Memang untuk mencapai rumah Bib Ali, kita harus melewati sebuah gang sempit. Sehingga oleh Bib Ali, seluruh kendaraan tamu-tamunya itu diminta untuk diparkir di pinggir jalan saja. “Biar tidak mengganggu” demikian alasan Bib Ali. Ini tentu saja membawa berkah bagi orang-orang yang menjadi tetangga Bib Ali. Melihat peluang bisnis dari ramainya para tamu yang menunggu waktu untuk bertemu Bib Ali, mereka berinisiatif untuk menjual berbagai kebutuhan para tamu itu. Ada yang berjualan nasi goreng dan berbagai macam makanan lain. Namun dagangan yang paling laris adalah wedang ronde. Wedang ronde memang cocok untuk menemani ngobrol di kala malam semakin dingin. Menghangatkan. Juga bisa mengusir kantuk. Meskipun terdapat beberapa penjual wedang ronde, tidak ada satupun penjual yang pernah mengeluh dagangannya sepi. Menurut mereka, hal itu termasuk salah satu karomah Bib Ali. Menurut cerita seorang penjual ronde yang terkenal paling kenyel ronde-nya, Bib Ali akan mulai menemui para tamunya itu selepas tengah malam. Namun tidak jarang Bib Ali baru keluar dari dalam rumahnya menjelang subuh saat sebagian tamunya telah terkapar berserakan akibat tidak kuasa menahan kantuk yang menyerang di teras yang telah berubah fungsi menjadi ruang tamu itu.

***

Aku, walaupun tinggal tidak jauh dari rumah Bib Ali, belum sekalipun pernah meminta nasihatnya. Aku punya prinsip yang ditanamkan oleh orang tuaku sejak kecil, jangan pernah bergantung pada orang lain untuk menyelesaikan sebuah masalah. Sehingga setiap kali aku menghadapi masalah, sebisa mungkin kuselesaikan sendiri. Hanya terkadang dulu, ini pun sangat jarang terjadi, aku meminta nasihat dari ibuku. Namun, sejak ayah meninggal dua tahun lalu, kesehatan ibu semakin menurun. Sering kudapati ibuku, termenung di dalam kamar sambil menatap barang-barang peninggalan ayah yang masih tetap pada tempatnya semula. Ibu menjadi sangat jarang berbicara kepada orang lain, bahkan termasuk kepadaku. Ibu hanya berbicara kepada foto ayahku. Sejak saat itu pula, aku tidak terlalu memperhatikan ibuku. Kubiarkan dia larut dalam dunianya sendiri. Namun agaknya kali ini aku benar-benar telah menemui jalan buntu untuk menyelesaikan masalah yang sudah lama kupendam sendiri ini. Masalah yang sungguh sangat menyiksa dan seringkali membuatku terjaga hingga sepertiga malam yang terakhir. Masalah ini menyangkut sesuatu yang sifatnya sangat pribadi sehingga aku tidak berani – atau lebih tepatnya – malu menceritakannya kepada orang lain. Sebenarnya ada persoalan lain yang seharusnya aku bereskan terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meminta nasihat Bib Ali. Persoalan itu adalah mempersiapkan mentalku untuk berani menceritakan masalahku di depan Bib Ali dan tamu-tamunya yang lain. Telah menjadi kebiasaan Bib Ali untuk tidak pernah mau menemui tamunya secara empat mata. Siapa saja yang ingin meminta nasihat Bib Ali harus mau menceritakan masalahnya itu di hadapan, belasan bahkan terkadang puluhan, tamu Bib Ali yang lain.

***

Malam ini aku berusaha untuk membulatkan tekadku untuk meminta nasihat Bib Ali. Setelah aku berhasil meyakinkan diriku sendiri bahwa semua orang yang meminta nasihat Bib Ali pasti mempunyai masalah, yang mungkin juga sangat pribadi. Sehingga aku tidak perlu merasa malu dan takut. “Cuek saja” pikirku. Aku sudah tidak kuat menanggung beban ini. Selepas tengah malam, aku berjalan kaki menuju rumah Bib Ali yang berjarak kurang-lebih sepuluh menit dari rumahku. Sesampainya di rumah Bib Ali, kulihat sudah ada sekitar dua puluhan orang yang duduk membentuk kelompok-kelompok kecil terdiri dari empat sampai enam orang. Kusalami mereka satu per satu. Kuperhatikan tidak ada seorangpun tamu malam ini yang kukenal. “Syukurlah,” bisikku dalam hati. Untuk membunuh waktu sambil menunggu Bib Ali, sesekali aku ikut nimbrung obrolan orang-orang yang duduk menjadi kelompokku. Salah seorang itu, usianya kuterka sudah di atas enam puluhan, mengaku datang dari sebuah kota di ujung timur pulau ini. Dia jauh-jauh datang ke kotaku ini untuk meminta doa Bib Ali agar anak perempuan sulungnya, yang menurut orang itu telah dijuluki perawan tua di kampungnya, segera mendapatkan jodoh. Tanpa terasa sudah dua jam aku menunggu. Jam tua di dinding teras rumah Bib Ali sudah berdentang dua kali lima belas menit yang lalu. Aku semakin tidak sabar menunggu. Selain karena sudah jenuh, juga karena rasa kantuk yang semakin menderaku. Tiba-tiba pintu yang menghubungkan ruang dalam dan bagian teras rumah Bib Ali terbuka. “Assalaamu ‘alaikum.” terdengar suara seorang laki-laki tua yang keluar dari balik pintu itu. Suara itu tidak bisa menutupi ketuaannya namun saat kutatap wajah pemilik suara itu, belum nampak sedikitpun gurat-gurat ketuaan di wajah putih bersihnya. “Inikah yang namanya Bib Ali?” tanyaku dalam hati. Pertanyaanku langsung terjawab ketika kulihat para tamu yang hadir malam ini berebut ingin bersalaman sambil berusaha mencium tangan laki-laki tua itu. Kubiarkan para tamu yang lain selesai bersalaman dengan Bib Ali. Barulah kemudian, kuraih tangannya lalu kurasakan genggaman tangan yang erat dan seketika kehangatan merayap sampai ke relung hatiku. Dia tersenyum. Saat kucoba untuk mencium tangannya, laki-laki tua itu buru-buru menarik tangannya. Aku semakin yakin, inilah yang namanya Bib Ali. Laki-laki tua yang malam ini keluar menemui para tamunya hanya dengan kaos oblong dan celana komprang berwarna putih tanpa kopiah.

***

Tanpa ada yang mengatur siapa yang harus memulai dulu, satu per satu orang-orang itu menceritakan masalahnya masing-masing. Aku pikir orang yang berani mengambil giliran pertama menceritakan masalahnya sungguh hebat mentalnya. Bagaimana tidak, di hadapan semua tamu Bib Ali yang memang terlihat acuh namun aku yakin mereka sebenarnya ikut mendengarkan, orang tersebut lancar saja menceritakan masalahnya. Aku memilih untuk mengambil giliran terakhir saja. Sebab, kelihatannya akulah orang yang datang paling akhir malam ini. Selain itu, aku ingin saat tiba giliranku bercerita, semua tamu yang lain telah pergi. Macam-macam persoalan yang diceritakan para tamu itu. Beberapa di antaranya tidak terlalu kuhiraukan karena sudah kuketahui sebelumnya. Terutama cerita orang-orang yang duduk mengelompok denganku. Namun ada pula yang – mau tidak mau – aku ikut mendengarkan karena masalah itu cukup menarik perhatianku. Sebetulnya bukan masalahnya yang menarik keingintahuanku melainkan nasihat-nasihat Bib Ali untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sesekali Bib Ali memberikan alternatif penyelesaian yang menurutku terkadang tidak masuk akal. Tetapi, itulah Bib Ali. Seperti saat seorang laki-laki bercerita bahwa dirinya sudah divonis dokter tidak lama lagi hidup di dunia ini karena penyakit yang telah dideritanya bertahun-tahun. “Kata dokter, kalau saya mau tetap hidup, atur pola makan! Tidak boleh makan daging dan jangan minum yang manis-manis.” cerita laki-laki itu. Setelah laki-laki itu menyelesaikan ceritanya, Bib Ali tertawa. “Sampeyan ini ngawur dan nekat juga lho. Konsultasi masalah penyakit kok dengan saya!” kata Bib Ali. “Tapi percayalah, kalau Allah belum menghendaki Sampeyan mati, Sampeyan belum akan mati.” lanjut Bib Ali. “Terus gimana, Bib?” tanya laki-laki itu. “Gimana apanya?” kata Bib Ali. Laki-laki itu tersenyum dan berkata, “Ya maksudnya, bagaimana caranya agar saya bisa tetap hidup dan sehat?” “Hahaha, biar terus hidup Sampeyan ya harus terus bernafas dan makan tho…,” “Sudah begini saja, karena Sampeyan juga ngawur konsultasi kesehatan kok dengan saya yang nggak tahu apa-apa tentang penyakit Sampeyan itu, saya beri resep yang ngawur-ngawuran juga.” kata Bib Ali. “Terserah Sampeyan, mau diikuti atau tidak, tapi insya Allah kalau Sampeyan ikhlas dan pasrah, Sampeyan akan tetap sehat.” ujar Bib Ali. “Setiap pagi setelah shalat subuh, minumlah segelas teh manis tapi setelah itu jangan minum yang manis-manis lagi.” terang Bib Ali. Kulihat laki-laki itu nyengir setelah Bib Ali menyelesaikan kata-katanya. Aku yakin dia kaget mendengar nasihat itu, demikian pula diriku. Kuperhatikan lagi laki-laki itu, sekarang dia mengangguk-anggukkan kepala. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat itu. Kulirik jam di dinding teras rumah Bib Ali, “Sudah jam setengah empat. Sebentar lagi subuh. Semoga masih ada waktu.” pikirku dalam hati. Biasanya, Bib Ali akan beristirahat setelah shalat subuh dan tidak menerima tamu pada siang hari. “Tinggal satu orang lagi” gumamku sambil menata hatiku yang kembali dagdigdug karena sebentar lagi giliranku untuk menceritakan masalahku di depan Bib Ali dan para tamunya. Memang sudah ada beberapa tamu yang langsung pulang setelah mendapatkan nasihat Bib Ali untuk masalahnya.

Namun tamu yang rumahnya jauh dan tidak membawa kendaraan sendiri akan menunggu sampai azan subuh berkumandang. Mereka biasanya akan shalat subuh berjamaah dengan Bib Ali baru kemudian pulang ke kotanya masing-masing. Kuhitung masih ada tujuh tamu tetap menunggu subuh datang di teras rumah Bib Ali di ujung malam menjelang fajar. “Ah kenapa mereka tidak pulang saja” gerutuku dalam hati. Tibalah giliranku. “Mati aku” kutukku. Kurasakan nafasku berpacu seirama detak jantungku yang semakin cepat. Aku ingin mendekat ke tempat di mana Bib Ali duduk. Namun dari semua tamu yang telah menceritakan masalahnya sebelum aku, tidak ada yang melakukan hal itu. Kubuka jaket sudah kupakai sejak berangkat dari rumah untuk melindungi dari dinginnya malam. Kegugupan telah menyebabkanku merasa gerah. Kuperhatikan Bib Ali menunggu. Pandangannya tertuju hanya kepadaku karena dia tahu akulah satu-satunya tamu yang belum menceritakan masalahnya. Aku semakin gugup. Sudah kucoba merangkai kata namun mulut ini tetap tidak mau terbuka. Aku bingung harus mulai darimana untuk menceritakan masalahku ini. Bib Ali masih menunggu. Semua tamu yang masih tersisa, juga ikut-ikutan memperhatikanku sekarang. Hening. Yang terdengar dengan jelas dalam keheningan itu adalah deru nafasku yang semakin memburu. Allahu akbar … allahu akbar. Pengeras suara dari musholla kecil di sebelah rumah Bib Ali yang mengumandangkan azan subuh mengagetkanku. Aku semakin terpaku di tempat dudukku. Sampai suara azan itu menghilang, aku masih belum bisa membuka mulutku untuk bercerita. Tiba-tiba Bib Ali menepuk pundakku. “Sudah, ayo kita shalat dulu saja!” suara Bib Ali menyadarkanku dari kegugupan yang masih saja menggelayutiku. Kuturuti perintah Bib Ali. Kuikuti langkah kakinya menuju musholla kecil di samping rumahnya. Aku dan ketujuh tamu yang tersisa shalat subuh bersama Bib Ali. Selesai shalat dan mengamini doa yang dipanjatkan Bib Ali, aku sudah tidak terlalu berharap Bib Ali akan menemuiku kembali. “Biarlah tetap kusimpan sendiri saja masalah ini” pikirku. Kemudian aku bersalaman dengan Bib Ali untuk berpamitan sebagaimana yang dilakukan oleh para tamu yang lain. Saat kujabat tangannya, tiba-tiba Bib Ali memelukku. “Kalau kedatanganmu hanya untuk membuktikan tentang cerita-cerita di seputar kehidupanku, maka ketahuilah bahwa aku ini tetap manusia biasa. Tidak semua cerita yang kaudengar itu, benar adanya. Kalaupun ada yang benar, percayalah itu sama sekali bukan atas kuasaku.” bisik Bib Ali di telinga kananku. Belum hilang rasa kagetku, Bib Ali telah masuk kembali ke dalam rumahnya. Sebelum menghilang di balik pintu, Bib Ali memalingkan mukanya kepadaku dan berkata, “Masalah yang kauhadapi saat ini hanya akan bisa kauselesaikan setelah kau meminta maaf kepada ibumu. Sejak ayahmu meninggal, kau telah menelantarkan ibumu dalam kesendiriannya. Sekarang, pulanglah!” Astaghfirullah!

M. Arif Rahman Hakim, S.S.

Guru SMA Islam Ahmad Yani Batang

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wow sungguh luar biasa cerita itu……..sangat menggugah hati….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: