Autis dan Kejenuhanku

16/08/2009 at 18:21 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Duniaku dunia autis, kadang aku begitu membenci keramaian, lebih suka menyendiri dan hidup dengan duniaku sendiri, apa yang aku suka apa yang membuatku merasakan nyaman mungkin itulah yang akan aku jalani. Keramaian yang tak membuatku nyaman paling sering aku hindari, meninggalkannya dan lebih memilih tuk pergi,  walau dalam berbagai berbagai perjalanan hidup yang aku alami tak semua keramaian membuatku membencinya, hal-hal itu yang kadang membuatku kangen.

Kadang ketika berada dalam puncak kejenuhan, keutisanku muncul, seakan benar-benar pengen sendiri dan kadang tak ingin lagi kuperhatikan dunia sekitarku, aku benar-benar ingin menjauh dari semuanya, dari hiruk pikuk manusia dan kebisingan-kebisingan yang memekakkan telingaku, Just leave me alone, mungkin ungkapan itu yang cocok bagiku ketika aku berada dalam puncak kejenuhan, ketika keautisan benar-benar menghinggapiku.

Apakah sebenarnya yang membuat seseorang itu merasakan kejenuhan, merasakan kebosanan yang seakan tak bertepi, kemudian muncul sebuah jawaban atas pertanyaan itu,  “aku harus pergi”, namun jawaban itu kembali menghadirkan pertanyaan yang lain, “aku harus pergi kemana???” aku tak tahu tempat mana yang akan aku tuju. Dan kemudian aku akan kembali bergelut dengan pertanyaan yang sama. Aku berada dalam puncak kejenuhan, Dan aku tak tahu aku harus bagaimana untuk mengusir kejenuhanku ini. Mungkin kejenuhan adalah bagian dari hidup setiap manusia.

BIB ALI

06/08/2009 at 21:32 | Posted in Uncategorized | 1 Comment

Cerita ini aku dapatkan dari Blognya Mas Arif, seorang pengajar di salah satu SMU di kotaku, Cerita yang panjang, biasanya kalau membaca cerita yang kayak gini gak pernah selesai sampai akhir, tapi entah ketika aku membacanya ada hal yang berbeda, ada hal menarik yang aku dapatkan. Dan cerita membawaku untuk mempostingnya kembali disini,

Selamat Membaca …….

======================================================

Di kota kecil yang menyimpan banyak kenangan sepanjang tarikan napasku ini tinggallah seorang ulama yang cukup disegani dan menjadi tempat meminta nasihat orang-orang yang tengah dirundung berbagai persoalan hidup. Namanya Habib Ali bin Yahya bin Ahmad Al Athas. Namun, orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Bib Ali saja. Habib adalah panggilan untuk seorang ulama yang mempunyai garis keturunan menyambung dengan Nabi Muhammad. Menurut cerita yang kudengar, Bib Ali adalah keturunan – entah keberapa – dari Nabi Muhammad.

Jika belum pernah bertemu dengan Bib Ali, Anda tentunya akan membayangkan bertemu dengan seseorang berperawakan tinggi besar, kulit agak gelap, dan berhidung mancung sebagaimana kebanyakan orang keturunan Arab. Tetapi, Bib Ali tidaklah seperti umumnya orang Arab. Tingginya kurang lebih sama dengan tinggi rata-rata orang Indonesia. Bahkan dari wajahnya hampir dapat dikatakan tidak seperti orang Arab terutama jika dilihat dari bentuk hidungnya yang tidak mancung. Dalam kesehariannya Bib Ali lebih senang berpakaian ‘nyentrik’ untuk ukuran seorang ulama. Bib Ali hampir tidak pernah terlihat memakai jubah dan kopiah putih seperti yang sering kulihat pada keseharian habib-habib yang lain. Dia lebih sering terlihat memakai kaos oblong putih, sarung batik, dan kopiah hitam. Bib Ali tinggal di sebuah rumah tua yang cukup besar namun sudah mengelupas di beberapa bagian dindingnya. Rumah itu akan terlihat seperti rumah orang biasa pada siang hari. Sepi, seakan tidak ada aktivitas di dalamnya.

Baca Selengkapnya

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.