KIRAB PUSAKA ABIRAWA – KOTA BATANG

26/04/2009 at 12:54 | Posted in Kota Batang | 10 Comments

Jum’at, 24 Aprill 2009 di kota Batang tepatnya mulai di depan rumah dinas Bupati Batang ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan Pawai Kirab Pusaka Abirawa yang di selenggarakan rutin tiap 1 tahun dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kabupaten Batang tanggal 08 April. Tradisi kirab ini sudah dimulai sejak tahun 2003 sebagai upaya untuk melestarikan tradisi dan nilai budaya bangsa yang merupakan aset wisata yang tidak ternilai harganya.

Massadsc01510-1_original1

Apa Sih Pusaka Abirawa Itu…???

Pusaka Abirawa adalah sebuah pusaka yang berbentuk tombak dengan panjang sekitar 6 (enam) meter, merupakan peninggalan Kanjeng Sunan Raden Sayid Nur Rochmat atau Kanjeng Sunan Sendang. Beliau berasal dari desa Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sunan Sendang adalah Aulia/Wali pada jaman kasultanan Demak Bintoro di bawah Sultan Trenggono. Beliau menimba ilmu pada Sunan Drajat, oleh karena itu setelah Sunan Drajat wafat, beliau menggantikan kedudukannya sebagai Dewan Wali atau Wali Songo. Sunan Sendang lahir tahun 1520 M dan wafat 1585 M.

Semula Pusaka Abirawa berada di Masjid R. Nur Rochmat di Paciran Kabupaten Lamongan. Selanjutnya berada di Sedayu (Gresik), karena salah satu keturunannya ada yang menjadi Bupati di tempat itu. Selanjutnya dibawa keturunan Sajid Nur Rochmat yang berada di Pasuruan. Setelah itu terus mengikuti keturunannya yang berada di Wiradesa Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Di Batang, Pusaka Abirawa menjadi pusaka andalan Trah Sayid Nur Rochmat, yaitu:

  1. R.T Suroadiningrat I (Kanjeng Seda Rawuh);
  2. Pangeran Ario Suroadiningrat II;
  3. R.T.A Djayengrono IV;
  4. R. Adipati Ario Puspodiningrat I;
  5. R. Adipati Ario Puspodiningrat II;
  6. R. Tumenggung Notodiningrat;
  7. R. Adipati Ario Suryoadiningrat (Bupati Batang Tahun 1886 M–1912 M)

Selain Pusaka Abirawa, ada 7 pusaka lain yang ikut dikirab, yaitu : Pusaka Karno Tanding, Keris Kyai Panji, Tombak Kyai Cepret, dan 4 tombak. Pusaka–pusaka tersebut merupakan peninggalan Pangeran Kyai Adipati Mandurorejo (Bupati Batang I), Kyai Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal), R.T . Pusponegoro I, Pangeran Diponegoro, R.T. Notodiningrat (Bupati Batang), R. Adipati Ario Suryodiningrat (Bupati Batang). Pembawa 8 pusaka inti tersebut adalah orang yang masih mempunyai trah Sayid Nur. Terdapat pula 20 pusaka pengiring yang dibawa oleh 20 orang yang berpakaian prajurit.

sebagai pusaka andalan di Kabupaten Batang, bersama beberapa pusaka pengiring lainnya untuk memberikan pengayoman kepada masyarakat Kabupaten Batang agar tentram, damai dan terhindar dari marabahaya.

Pusaka yang dikirab itu terdiri dari keris 8 buah, pedang 4 buah dan tombak 66 buah merupakan sarana untuk mengingatkan kepada masyarakat Batang dan sekitarnya bahwa Kabupaten Batang berdiri kembali pada tanggal 8 April 1966.

Kirabdsc01514-1_original1

Tombak AbirawaDrum Band

Bupati Batang beserta Istri dalam kirab itu menaiki Kereta Kencana dengan mengenakan Pakaian adat Jawa sambil menyebarkan uang receh kepada masyarakat yang menonton kirab tersebut, dan uang receh tersebut direbutkan oleh masyarakat, tidak hanya anak-anak tetapi para orang tua pun iku juga memperebutkan uang receh yang di sebar oleh Pemimpin Kota Batang itu, yang konon mengandung berkah.

dsc01548-1_original

dsc01551-1_originaldsc01550-1_original

Prosesi Kirab Pusaka berakhir di halaman Pendopo Kabupaten Batang, selanjutnya pusaka-pusaka disemayamkan dan 2 gunungan yang berisi hasil panen diperebutkan oleh masyarakat.

dsc01535-1_originaldsc01554-1_original

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hai broo..pa kabar? kmrn di sby juga ada ramai2 ky ntu loo.. parade bunga.. tapi hujan.. hee..

  2. kita harus lestarikan budaya biar anak cucu kita tahu akan kejayaan bangsa kita.dan aku termasuk orang yang senang membaca akan sejarah bangsa kita dan sejarah bangsa-bangsa yang lain di dunia.

  3. wah, KIRAB…. disini udah gak pernah lagi…..

    pengen ngerasain lagi ramenya

  4. yahy…
    boleh..boleh juga kayak di Yogya Hadiningrat.
    tapi seyogyanya masyarakat tetap diberi pengertian simbolis atau pemaknaan maksud dan tujuan kirab itu maksudnya supaya tetap nalar-logis.

    uang receh ya emang bawa berkah dapat utk beli es..
    bukan terus utk pusaka di rumah..
    Emg dia (pemberi udik-udik)siapa? Nabi ? Malaikat ? Atau Bendahara Tuhan?

    Regards

  5. WAHH KOTA BATANG EMANG KOTA YG PENUHH CINTA..HEHE.. CINTA SEJATIKU DATANG DARI SANA…….

  6. BELAJARLAH PADA SEJARAH…PASTI ANDA AKAN SUKSESSSS

  7. Dimanakah makam adipati mandurareja ? Saya adalah salah satu keturunannya.

  8. @djoko P : terima kasih atas kunjunganya, mungkin disini bisa membantu pak , http://www.suaramerdeka.com/harian/0304/09/dar6.htm

  9. perayaan yang menarik

  10. mampir baca2 mas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: